----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Pidato Perpisahan---Pidato Singkat---Pidato Kepramukaan---Pidato Sekolah---Pidato Pembukaan---Pidato Resmi
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jumat, 18 September 2009

Puisi-Puisi Chairil Anwar

Di bawah ini adalah kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar
Semoga Menambah khasanah keilmuan kita.
Selamat Menikmati.






KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957


PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949


MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai



Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954



PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954



AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943



PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943



HAMPA


Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.



DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943


SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...


SENJA DI PELABUHAN KECIL


Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946


CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946



MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949


DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Judul-Judul Pidato Pilihan :

  1. Dies Natalis SMAN 1 Kesamben Tuntutan Globalisasi
  2. Sambutan Camat Pada Rapat Desa Melalui Gotong-royong Segala Kesulitan Bisa Teratasi
  3. Acara Rutin Mingguan SMAN 1 Garut Kita Harus Mandiri
  4. Acara Rutin Mingguan SMAN 21 Semarang Membangun Semangat Muda
  5. Contoh Pidato Acara Rutin Mingguan SMKN 10 Subang Berbakti Kepada Orang Tua
  6. Pidato Pertemuan Rutin Bulanan SMAN 2 Cikarang Pusat Bekasi Jiwa Mandiri Kunci Harga Diri
  7. Pidato Pertemuan Rutin Bulanan SMAN 5 Jakarta Menjadi Generasi Muda Pembawa Perubahan
  8. Pidato Pembinaan Rutin Bulanan SMAN 17 Batam Mari Bangun Semangat Belajar Kita
  9. Pidato Pembinaan Rutin Mingguan SMAN 5 Bandung Membangun Semangat Belajar Menggapai Prestasi
  10. Pidato Pembinaan Rutin SMAN 1 Semarang Mari Bangun Karakter Secara Positif
  11. Pidato Perpisahan oleh Perwakilan Siswa Kelas 3 SMP Lanjutkan Sekolah dan Raih Cita-citamu
  12. Contoh Pidato Tema Reboisasi Anjuran Menanam 1000 Pohon
  13. Contoh Pidato Pada Hari Pendidikan Nasional Bangkitkan Semangat Pendidikan Nasional
  14. Pidato SD Negeri 5 Bangkalan Indahnya Memiliki Sopan Santun
  15. Pidato Perpisahan oleh Siswa SMP 2 Surabaya Jadi Juara Berkat Jerih Payah
  16. Pidato Perpisahan oleh Wakil Siswa Kelas 3 SMP 33 Jakarta Raih Pendidikan Lebih Tinggi Raih Cita-cita
  17. Pidato Perpisahan Sekolah SMPN 15 Batam Kejarlah Cita-Citamu
  18. Pidato Perpisahan Kelas 6 SDN 1 Jakarta Giatlah Belajar dan Raih Cita-citamu Setinggi Mungkin
  19. Pidato Perpisahan Murid SDN 1 Bengkulu Buang Penyesalan Perbaiki Masa Depan
  20. Pidato Perpisahan oleh Wakil Siswa kelas 3 SMAN 1 Cilegon Waktu Tak Dapat Diputar Jangan Sia-Siakan
  21. Contoh Pidato Sambutan Kepala Desa Pada Rapat Desa Informasi Sangatlah Penting Untuk Kemajuan
  22. Contoh Pidato Sambutan Pada Pembukaan Diskusi Kelompok Manfaat Bioteknologi
  23. Contoh Pidato Sambutan Pada Sidang Pembukaan Pemilihan Ketua Prestasi Bisa Dicapai Berkat Keuletan dan Ketangguhan
  24. Contoh Pidato Upacara Rutin SMAN 2 Cikarang Pusat Bekasi Jadilah Pemuda Sukses
  25. Contoh Pidato Rutin SMPN 1 Bekasi Membangun Harapan Membangun Keberhasilan
  26. Contoh Pidato Upacara Rutin SMAN 2 Cikarang Pusat Bekasi Pemuda Taruhan Bangsa
  27. Contoh Pidato Upacara Rutin SMAN 1 Tasikmalaya Membangun Perubahan dan Mencapai Kesuksesan
  28. Contoh Pidato Upacara Rutin SMAN 12 Tasikmalaya Belajarlah Berani Bertindak Untuk Keberhasilan Masa Depan
  29. Contoh Pidato Pembinaan Rutin SMA Negeri 8 Bekasi Mari Bangun Karakter Secara Positif
  30. Contoh Pidato Upacara Hari Senin SMA Negeri 15 Jakarta Bermimpilah Besar dan Pegang Kuat-Kuat Hingga Berhasil