----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Pidato Perpisahan---Pidato Singkat---Pidato Kepramukaan---Pidato Sekolah---Pidato Pembukaan---Pidato Resmi
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 12 April 2009

Tim SUKSES BUNUH DIRI




Kalah dalam pemilihan ternyata tak hanya berdampak pada Caleg itu sendiri. Tim Sukses (TS) Caleg pun bisa stres bahkan mengakhiri hidupnya. Itu dibuktikan Muhammad Iqbal (28), TS seorang Caleg yang kalah.

Lelaki yang menetap di Jalan Eka Surya, Gang Pribadi, Kelurahan Gedung Johor, Medan Johor ini nekat gantung diri di kediamannya, kemarin (10/4). Info dihimpun POSMETRO MEDAN, Iqbal stres usai Caleg jagoannya kalah ditambah istrinya, Netty br Gultom, yang kabur dari rumah karena tak tahan dengan tabiat Iqbal yang jarang pulang ke rumah selama musim kampanye kemarin.

Iqbal adalah TS seorang Caleg untuk DPRD Medan. Sejak dua bulan lalu dia aktif menjadi TS Caleg sebuah Parpol. Karena kesibukan sebelum dan saat kampanye. Lelaki dengan pekerjaan serabutan ini dikabarkan sering tak pulang ke rumah untuk ngurus kemenangan Caleg jagoannya. Karena itu, dia acap bertengkar dengan istrinya.

Puncaknya, Netty diam-diam meninggalkan rumah. Bahkan, dua anaknya ditinggalkannya bersama Iqbal. Sejak itulah Iqbal uring-uringan. Ia dilaporkan makin stress menyusul Caleg yang diusungnya kalah dalam pemilihan. Kemarin, Iqbal akhirnya bertindak nekat. Dia mengakhiri hidup dengan gantung diri di rumahnya.

Awalnya, jasad Iqbal ditemukan adiknya, Ade Wulansari. Ade mendapati tubuh kakaknya tergantung dengan seutas tali nilon di dapur rumahnya. Sebuah kursi tergeletak di sampingnya. Diperkirakan, Iqbal naik ke kursi lalu menendangnya untuk memuluskan aksi bunuh diri. Temuan itu sontak menggemparkan warga di sana. Ade berteriak histeris saat sejumlah warga berniat menunaikan Sholat Jumat.

Temuan itu kemudian dilaporkan ke Mapolsek Delitua. Polisi lalu turun ke TKP bersama tim identifikasi. Selain jasad Iqbal, ditemukan juga surat wasiat buat Netty, istri Iqbal. “Korban kecewa pada istrinya karena pergi begitu saja meninggalkannya dan anak-anaknya,” ungkap Iptu Aron Siahaan, Kasat Reskrim Polsek Delitua.

Menurut Iptu Aron, usai mendapat laporan, pihaknya langsung ke TKP dan menemukan sebuah surat wasiat yang berisikan pengakuan kekesalan Iqbal atas kepergian istrinya. “Dari keterangan adiknya sudah jelas kalau korban sangat frustasi dan kerap uring-uringan dengan kaburnya istrinya dengan meninggalkan 2 buah hati mereka. Soal indikasi lain tidak ada, korban tewas akibat bunuh diri,” tandas Aron.

Usai diidentifikasi, jenazah Iqbal yang semula akan dievakuasi ke RS Pirngadi Medan guna diautopsi akhirnya gagal karena pihak keluarga menolak. Mereka meyakini tidak ada unsur lain penyebab kematian Iqbal, selain bunuh diri. Akhirnya jenazah Iqbal disemayamkan di rumah duka. (tidakmenarik.wordpress.com-11 April 2009)


Daftar Caleg-Caleg Stres




Prediksi akan banyak Caleg-Caleg STRES paska pemilu ternyata bukan omong kosong. Beberapa kabar sudah sampai ketelinga publik bahwa CALEG STRES sudah bermunculan di berbagai daerah. Bahkan tidak hanya stres. Ada juga yang Depresi, Gila, bahkan MENINGGAL DUNIA.

Dilihat dari biaya kampanye saja (Belum termasuk BAGI_BAGI UANG), sebagaimana dikatakan kompas.com-Minggu, 5 April 2009 bahwa Caleg DPR rata-rata butuh sekitar Rp 1 miliar. Caleg DPRD provinsi perlu Rp 500-an juta, sedangkan DPRD kabupaten/kota lebih kurang Rp 200 juta.

Karenanya wajar jika mereka jadi gila bahkan meninggal.

Diantara beberapa CALEG STRES dan MENINGGAL antara lain :
  1. Ni Putu Lilik Heliawati (45), caleg nomor tiga Partai Hanura (BALI)
  2. TIM SUKSES (TS) : Iqbal (TS Medan) BUNUH DIRI
  3. Caleg Dari TANGGERANG
  4. Caleg Dari MAKASAR
  5. Caleg Dari GARUT
  6. Caleg asal Kec SUKAWENING



CALEG DAGANG JANJI, Masyarakat DAGANG SUARA



Kompetisi merebut kursi legislatif dalam Pemilu 9 April nanti sungguh sengit. Dengan sistem pemilihan berdasar suara terbanyak, setiap calon anggota legislatif (caleg) harus bersaing dengan sesama caleg satu partai serta partai lain lewat kampanye yang mahal. Apa yang bisa diharapkan dari hajatan politik semacam ini?

Banyak orang bilang, Pemilu 2009 ini memang agak edan, setidaknya dilihat dari jumlah peserta yang bengkak. Bayangkan saja, pemilu ini bakal melibatkan 38 partai nasional dan enam partai lokal di Aceh. Ada 11.301 caleg DPR, 1.116 caleg DPD, puluhan ribu caleg DPRD provinsi, dan ratusan ribu caleg DPRD kabupaten/kota yang bertanding meraih kursi.

Dengan peserta begitu banyak, pemilu kali ini jadi mirip perayaan. Namun, ini perayaan yang ketat karena diperkirakan ada sejuta lebih caleg yang bertarung memperebutkan total 18.440 kursi legislatif tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan DPD. Untuk menang, mereka mesti berjuang keras meraih simpati pemilih lewat kampanye, kalau perlu dengan menggelontorkan uang besar.

Hawa panas kompetisi tercium jauh-jauh hari. Data Litbang Kompas mencatat, demi mencari dana kampanye, sebagian caleg nekat ambil jalan pintas. Di Banten, Januari lalu, misalnya, caleg DPRD Kabupaten Pandeglang, Romdoni (31), ditangkap polisi karena menggandakan uang. Bersama komplotannya, dia menggasak uang Rp 56 juta, yang katanya untuk biaya sosialisasi.

Sebulan kemudian, caleg DPRD Lebak, Ujang Zaenal Abidin (40), juga dicokok polisi. Lelaki ini diduga mendalangi penjarahan kebun kelapa sawit. Saat diperiksa, dia mengaku hasil jarahan itu untuk ongkos kampanye.

Pada musim kampanye terbuka akhir Maret sampai awal April ini, makin banyak caleg yang mengeluarkan jurus-jurus kepepet. Sebagian caleg DPRD Kediri terang-terangan pinjam uang Rp 75 juta hingga Rp 100 juta dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sejumlah caleg asal Palembang, Sumatera Selatan, ramai-ramai jual mobil dan rumah. Beberapa dari Bogor, Jawa Barat, dan Pamekasan, Jawa Timur, menggadaikan barang berharga, seperti tanah dan perhiasan.

”Saya terpaksa menggadaikan sertifikat rumah dan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) mobil sedan,” kata Ali Wasiin, caleg DPRD Kabupaten Nganjuk dari PKB. Pengusaha agrobisnis itu sudah menghabiskan Rp 200-an juta untuk kampanye.

Seorang caleg DPR Kabupaten Bantul, sebut saja Rudi, mengaku menjual sawah dan kebun warisan orangtua demi mengumpulkan uang Rp 150 juta. Dana itu untuk beli nomor urut 1 (saat belum ditetapkan pemilihan berdasar suara terbanyak) dan biaya kampanye. ”Eh, ternyata sekarang enggak pakai nomor urut lagi,” katanya.

Jorjoran

Sebenarnya, berapa sih dana kampanye? Menurut informasi dari para caleg, besarannya bervariasi, sesuai dengan level kursi yang dibidik. Caleg DPR rata-rata butuh sekitar Rp 1 miliar. Caleg DPRD provinsi perlu Rp 500-an juta, sedangkan DPRD kabupaten/kota lebih kurang Rp 200 juta.

Biaya besar itu cukup realistis. Ambil contoh, seorang caleg DPR menyosialisasikan dan mengampanyekan dirinya selama tiga bulan di satu daerah pemilihan (satu dapil rata-rata terdiri dari 600-an desa). Untuk honor koordinator tim sukses desa saja (dengan satu orang digaji Rp 200.000 per bulan), dibutuhkan Rp 360 juta. Biaya cetak 3.000 baliho plus pemasangannya Rp 600 juta (satu baliho Rp 200.000).

Ongkos bikin 10.000 kaus dan 100.000 poster sekitar Rp 100 juta. Dana untuk kegiatan sosial, seperti bakti sosial, kunjungan, silaturahmi, atau bingkisan bisa mencapai Rp 50 juta. Jadi, totalnya sekitar Rp 1,1 miliar. Belum lagi, uang yang dikeluarkan untuk memenuhi todongan ini-itu.

”Hitungan itu tidak mengada-ada. Saya sendiri menyiapkan dana Rp 2 miliar. Yang habis sudah Rp 1 miliar lebih,” kata Probo Yuniar Wahyudianto (54), caleg Partai Hanura untuk DPR dari Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang.

Jika hitungan itu diakumulasi, jumlahnya lebih mengejutkan. Anggap saja masing-masing dari total 12.417 caleg DPR dan DPD mengeluarkan Rp 500 juta untuk kampanye, maka jumlahnya mencapai Rp 6,208 triliun. Seberapa besarkah itu? Bandingkan saja, dana bantuan tunai langsung (BLT) yang dicairkan Maret 2009 saja hanya Rp 3,7 triliun, atau sekitar separuhnya saja.

Kalau hitungan diperluas mencakup total dana kampanye semua caleg, tentu akumulasi dana kampanye nasional bakal lebih menyentak. Dengan biaya begitu besar, bagaimana kalau caleg itu nanti gagal?

”Pasti kecewa. Tapi, ini kan investasi politik. Setidaknya saya telah ikut memberi alternatif pilihan dari kalangan muda dan mendorong pendidikan politik,” kata TB Ace Hasan Syadzily (32), caleg Golkar untuk DPR dari Dapil Pandeglang-Lebak.

Sikap itu juga disiapkan Muh Musa Datuk, caleg PPD, jika ternyata upayanya meraih kursi DPR dari Dapil II DKI Jakarta kandas. Langkah legowo itu juga bakal diambil Zaini Rahman (36), caleg PPP untuk DPR di Dapil Jatim III. ”Saya tahu risikonya karena pernah kalah saat jadi caleg Pemilu 2004,” kata Zaini yang merelakan Rp 600-an juta untuk nyaleg kali ini.

Siapkah semua caleg bersikap legawo? Mungkin tak mudah menghadapi kekalahan setelah mengeluarkan dana begitu besar. Ingat saja Yuli Nursanto, pengusaha jasa transportasi yang kandas menduduki kursi bupati Ponorogo periode 2005-2010. Sulit menerima kenyataan dan dikejar-kejar utang untuk biaya kampanye, lelaki gempal itu akhirnya stres dan mencoba bunuh diri berkali-kali.

Namun, jika pun akhirnya terpilih, caleg yang sudah habis-habisan berkampanye sekarang ini sebenarnya juga agak rentan. Anggota legislatif terpilih nanti dikhawatirkan bakal lebih sibuk menutup biaya kampanye ketimbang bekerja memperjuangkan aspirasi rakyat. ”Karena keluar banyak modal, caleg terpilih pasti berusaha mengembalikannya. Itu logika dasar,” kata Sapari (47), penjual tempe di Pasar Jombang, Ciputat, yang akrab dengan hitungan dagang.

Transaksi

Pengamat politik dari Surabaya, Daniel Sparinga, menilai, enam bulan sosialisasi dan tiga minggu kampanye pemilu itu terlalu panjang sehingga membengkakkan biaya. Pada sisi lain, banyak anggota masyarakat yang masih miskin. Mereka sudah lama merasa diperah alias dieksploitasi oleh sistem politik dan diabaikan elite.

Nah, ketika ajang sosialisasi dan kampanye datang, masyarakat merasa dapat peluang untuk mencari uang. ”Kasarnya, mumpung elu masih caleg, gue eksploitasi duluan. Sebab, kalau elu sudah jadi elite, elu yang mengeksploitasi gue. Betapa kasihannya caleg sekarang, mereka being exploited,” katanya.

Daniel sendiri pernah menyaksikan pemuka agama mendagangkan doa dukungan untuk caleg. Warga juga berani meminta tambahan jika amplop yang diterima dirasa kurang. Jadi, politik sekarang benar-benar berdasarkan transaksi. Ibarat kata, elu dapat apa, gue dapat apa? Padahal, semestinya politik dibangun atas dasar kontrak antara pemilih dan legislatif

”Keadaan sekarang sudah edan, it has been extremely crazy.” (kompas.com-Minggu, 5 April 2009)


Caleg DEPRESI



Sebelum Pemilu tanggal 9 April berlangsung, banyak sekali tulisan di berbagai media massa tentang potensi caleg gagal yang akan mengidap depresi berat, stress, bahkan gila. Awalnya, saya menganggap tulisan-tulisan itu terlalu mengada-ada; terlalu membesa-besarkan isu. Di mata saya, mereka yang menjadi caleg adalah mereka yang sudah siap “kalah perang”.

Namun, belakangan saya mulai ragu–dan ternyata keraguan itu benar adanya. Ya, ragu ketika dua pekan terakhir menjelang Pemilu, saya kumpul-kumpul dengan beberapa caleg di Jateng, yang kebetulan berlatar belakang “anak orang kaya”. Ada, yang anak pensiunan jenderal, anak pengusaha jamu di Cilacap, dan sebagainya. Mereka, caleg tajir ini gelisah dengan perilaku caleg-caleg yang bukan berasal dari kalangan “the have” yang mencoba me-moroti duit mereka lantaran sudah mulai kehabisan bahan bakar kampanye di penghujung akhir masa-masa kampanye. Padahal, masa-masa injury time kampanye itu, merupakan masa-masa yang sangat menentukan sebelum “Hari H” pemilihan.

Para anggota tim sukses caleg-caleg tajir ini kemudian menamai para caleg dengan duit pas-pasan itu dengan sebutan ICMI, singkatan dari “Ikatan Caleg Melarat Indonesia” (maaf, bukan bermaksud menghina, melainkan hanya mengemukakan fakta yang ada di lapangan). Selanjutnya, izinkan saya untuk menyebut mereka dengan Caleg ICMI.

Oh ya, sebelum itu, perlu saya jelaskan: Mengapa tulisan ini hanya fokus pada caleg-caleg ICMI? Itu, lantaran karena pola pendanaan kampanye mereka sebagai caleg, yang cenderung terlalu memaksakan diri: menggadaikan properti, menguras tabungan, hingga berhutang. Berbeda dengan para caleg tajir, yang memang punya alokasi khusus untuk membiayai kampanye mereka. Jangankan Rp1 miliar, Rp 6 miliar pun mereka siapkan tanpa mengganggu arus cash flow keuangan rutin mereka. Jadi, jika pun gagal, tidak terlalu berpengaruh terhadap atmosfer kehidupan pascapemilu.

Berbeda, dengan caleg-caleg ICMI–yang kebanyakan bertarung di level DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota–jika gagal menjadi caleg. Tabungan terkuras, hutang menumpuk, dan sebagainya. Akhirnya, tidak sedikit dari mereka yang menjadi stress, depresi berat, bahkan menjadi gila. Kompas edisi ini menulis tentang caleg-caleg DPRD Kediri yang mengaku terang-terangan pinjam uang Rp 75 juta hingga Rp 100 juta dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Kompas juga menulis:

Sejumlah caleg asal Palembang, Sumatera Selatan, ramai-ramai jual mobil dan rumah. Beberapa dari Bogor, Jawa Barat, dan Pamekasan, Jawa Timur, menggadaikan barang berharga, seperti tanah dan perhiasan. “Saya terpaksa menggadaikan sertifikat rumah dan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) mobil sedan,” kata Ali Wasiin, caleg DPRD Kabupaten Nganjuk dari PKB. Pengusaha agrobisnis itu sudah menghabiskan Rp 200-an juta untuk kampanye. Seorang caleg DPR Kabupaten Bantul, sebut saja Rudi, mengaku menjual sawah dan kebun warisan orangtua demi mengumpulkan uang Rp 150 juta. Dana itu untuk beli nomor urut 1 (saat belum ditetapkan pemilihan berdasar suara terbanyak) dan biaya kampanye. “Eh, ternyata sekarang enggak pakai nomor urut lagi,” katanya.

Kini, kekhawatiran media massa tentang caleg-caleg ICMI yang gagal dan kemudian depresi berat ternyata mulai terbukti. Di Tangerang, seperti diberitakan Tv-One di sini, seorang calon legislator daerah pemilihan Tangerang, di perumahan elit Alam Sutera Kunciran, stres dan marah-marah karena kalah dalam pemilu legislatif 9 April lalu. Sekitar pukul 17.00 WIB saat penghitungan suara dilakukan, seorang pria (40) yang merupakan caleg dari partai tertentu, terlihat frustasi saat mengatahui kalah dalam perolehan suara.

Dia merangkak di pinggir jalan dengan membawa-bawa cangkir sambil meminta-minta uang kepada orang yang berlalu lalang, katanya kembalikan uang saya, kata caleg itu. “Ia diketahui kalah dalam perolehan suara, namanya ada di daftar pemilih tapi kalah dalam pemilihan,” kata salah seorang petugas KPPS Tedi, sabtu 11 April 2009.

Caleg ini mengalami stres berlebihan, hingga mengalami depresi. Sebab tingkah lakunya sudah seperti orang gila, dengan rambut yang masih klimis, dan hanya mengenakan celana pendek, bahkan menjadi bahan ejek anak-anak.

Warga yang menyaksikan ulah caleg aneh itu, tidak ada yang berani mendekat dan hanya melihat dari jarak kejauhan saja. “Bahkan sesekali ia melempari warga dengan cangkir sambil marah-marah,” tutur Tedi. “Saya tidak perlu sebut nama dan partainya tidak enak mas, yang jelas nama dia masuk daftar caleg,” ujar Tedi.

Sementara itu, seorang caleg Hanura di Bali diberitakan mendapat serangan jantung. Ia pun meninggal dunia. Kompas edisi ini menulis Ni Putu Lilik Heliawati (45), caleg nomor tiga Partai Hanura untuk DPRD Buleleng, meninggal dunia secara mendadak di rumahnya Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Heliawati diduga meninggal akibat serangan jantung setelah menerima telepon dari tim suksesnya bahwa perolehan suara yang bersangkutan tidak memenuhi harapan.

Bahkan, tak hanya caleg yang berpotensi stress. Di Medan sudah ada tim sukses caleg DPRD yang diberitakan mencoba bunuh diri (di sini).

Akhirnya, menanggapi mulai bermunculannya caleg ICMI yang stress, saya hanya bisa berkata: “Jika diibaratkan bahwa Pemilu adalah sebuah medan peperangan, semestinya para caleg itu harus sudah siap menerima resiko. Jika tak siap kalah, ya jangan maju dong. Atau, jika memang tak punya ‘dana perang’ cukup, ya ndak usah memaksakan diri dong.”

Semoga, fenomena ini menjadi pelajaran bagi Pemilu 2014, lima tahun mendatang. KPU, batasin dong jumlah caleg!!!



Stres, Depresi , Gila , Meninggal Akibat NYALEG




Sejak kampanye Resmi dibuka pada tanggal 16 Maret 2009, , pusing gag sih lo ngeliatin poster/baliho/spanduk yang berisikan caleg2 yang isinya minta diCONTRENG???.

Semua itu untuk menyambut pemilu legislatif 9 April Dan atribut mereka gag cuma 3-5, bahkan bisa 10-20an sepanjang jalan... Kasian rasanya ngeliat pohon2 dijalan dipantek buat masang poster2 para caleg2 itu... pika18 mengerikan...

Kira2 berapa yagh dana yg mereka abisin buat bikin atribut2 tersebut? Yuppi, kesiapan finansial merupakan syarat yang harus dipenuhi para caleg. Mereka harus rela mengeluarkan jutaan, ratusan juta bahkan mencapai miliaran rupiah untuk berbagai keperluan. Para caleg akan menguras tabungan, menjual tanah, menggadaikan barang berharga dan bahkan, harus rela pinjam sana-sini.

Dari puluhan ribu calon legislatif (caleg) yang diseleksi KPU, sebesar 11.868 orang yang lolos. Sebelumnya, jumlah caleg yang didaftarkan partainya ke KPU, berjumlah 14.020 orang. Berarti sebanyak 2.152 caleg yang dicoret oleh KPU. Pencoretan ini karena berbagai macam alasan. Antara lain karena amasalah administrasi dan tidak mau ditaro pada urutan bawah. star

Contoh simpelnya, di DKI Jakarta terdapat 2.268 calon anggota DPRD provinsi untuk 94 kursi, 606 calon anggota DPR untuk 21 kursi, dan 41 calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk empat kursi saja. Perbandingan yang jauh, yang bisa lolos paling cuma sebagian kecilnya aja.

Dan bagaimanakah nasib mereka2 yang gag berhasil lolos??

kalo menurut prediksi gw, Opsinya adalah...
1. Setres
2. Depresi
3. Gila
4. Meninggal

Dan setelah gw liat berita, prediksi gw BENAR. Berikut ini gw beberin beberapa hasil penemuan gw tentang berita2nya mereka :

1. Kasus Setres
Calegnya stres karena diindikasikan telah menebar uang sebelum pemungutan suara pada salah satu TPS di wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut. Namun, setelah dilakukan penghitungan suara, hasil sementara menunjukkan keok atau kalah telak sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan pada Polsek setempat. Ck..ck..ck..

Sumber : http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/11/13035736/Caleg.Stres.Mulai.Bermunculan

2. Kasus Depresi
Dua hari menjelang pelaksanaan pemilu legislatif, dua orang pasien sudah menempati bangsal khusus ini. Seorang pasien pria berusia 30 tahun dan seorang lainnya perempuan berusia 38 tahun, istri seorang caleg yang berdomisili di Bandar Lampung. Keduanya diduga mengalami depresi karena takut angota keluarganya gagal terpilih sebagai anggota legislatif. Itu baru berita SEBELUM ketahuan hasilnya lhoOo...
apalagi kalo udah ketahuan yah?
Mengerikan... kaget

Sumber : http://www.indosiar.com/fokus/79481/rumah-sakit-jiwa-siapkan-bangsal-bagi-caleg-depresi

3. Kasus Gila
Kemaren gw nonton metro TV, ada beberapa caleg yang masuk ke panti rehabilitasi. Gambarnya lagi disiram sama air kembang. Kata naratornya karena sang caleg gagal tersebut udah ngeluarin uang sekitar 300jutaan buat kampanye. Dan pasien caleg gagal di panti rehab itu gag cuma satu lhoOo. Besar kemungkinan jumlahnya akan bertambah dari ketika gambar tersebut diambil. sayang gw lupa, dasrah mananya.
Wii... MENGERIKAN!!

4. Kasus meninggal
Seorang caleg Hanura, Putu Lilik Heliawati (42), Buleleng, Bali, meninggal dunia. Korban diduga menghembuskan nafas terakhir karena tidak meraih kursi pada pemilu legislatif 9 April 2009. Korban yang duduk sebagai caleg nomor urut 3 dapil Busungbiu untuk DPRD Buleleng itu meninggal pukul 22.00 wita, Kamis (9/4/2009). Ia juga menjabat sebagai sekretaris PAC Hanura di Busungbiu, Buleleng.

Sumber :
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/10/142502/1113654/700/usai-perhitungan-suara-caleg-hanura-di-bali-meninggal

Ironis emang, para kontestan yang ikut kompetisi sebagai wakil rakyat dalam Pemilu, semuanya merasa yakin berhasil. Mereka jarang sekali yang siap tereleminasi dan legawa menerima kekalahan. Menurut para pengamat, hal ini bisa memicu timbulnya gangguan kejiwaan para caleg. Betapa tidak, mereka telanjur mengeluarkan dana yang cukup besar, ternyata gagal meraih kekuasaan. (dillaardasy.blogspot.com)


Caleg Hanura Meninggal Akibat Tidak Siap Kalah




Pemilu legislatif 2009 di Bali diwarnai duka. Seorang caleg Hanura, Putu Lilik Heliawati (42), Buleleng, Bali, meninggal dunia. Korban diduga menghembuskan nafas terakhir karena tidak meraih kursi pada pemilu legislatif 9 April 2009.

Korban yang duduk sebagai caleg nomor urut 3 dapil Busungbiu untuk DPRD Buleleng itu meninggal pukul 22.00 wita, Kamis (9/4/2009). Ia juga menjabat sebagai sekretaris PAC Hanura di Busungbiu, Buleleng.

Kabar meninggalnya korban sangat mengejutkan. Pasalnya, siang hari saat penyontrengan, Lilik sempat memantau beberapa TPS serta berdiskusi dengan teman-temannya sesama caleg. Bahkan, ia sempat berdiskusi dengan Ketua DPD Hanura Bali Gede Ngurah Wididana.

Namun petaka terjadi pada malam hari saat Lilik menerima telepon dari salah seorang tim sukses yang melaporkan perolehan suara yang diraihnya. Tak lama setelah menerima telepon, Lilik tiba-tiba terkuali lemas.

Kerabatnya segera melarikan korban ke RSUD Singaraja. Namun nyawanya tak tertolong karena korban meninggal pukul 23.00 wita di rumah sakit.

"Mungkin saja ia lemas karena kecapekan. Ia sejak kampanye sangat aktif keliling. Korban saat muda memiliki riwayat sering pingsan," kata Wididana. Hasil pemeriksaa dokter disebutkan, korban mengalami hipertensi. Rencananya korban akan dimakamkan Jumat (10/4/2009) sore nanti.


Caleg Stres , Gara-gara Hanya Dapat 5 Suara




Dampak kekalahsn pemilu tak hanya berimbas kepada sang caleg yang sudah memertaruhkan hal-hal penting untuk mendongkrak popularitasnya dan meraih suara, namun gagal.

Diduga kesal dengan raihan suara di tempat tinggalnya minim, salah seorang calon legislatif IS menutup jalan desa Pinggirsari Kecamatan Sukawening, dengan menggali aspalnya.

Penutupan jalan yang menghubungkan Kecamatan Sukawening dengan Pangatikan itu dilakukan beberapa jam setelah penghitungan suara.

IS marah-marah lantaran perolehan suaranya hanya mencapai lima suara. Bahkan di TPS-nya sendiri, IS sama sekali tidak memperoleh suara alias nol.

Dindin, salah seorang petugas piket kantor Kecamatan Sukawening baru mengisahkan kejadian tersebut sabtu (12/4).

Dikatakannya, penutupan jalan dilakukan IS begitu dia melihat hasil perolehan suara di beberapa TPS

“Laporan yang kami dengar, dia melakukan penutupan jalan (Sukawening-Pangatikan) dengan setelah melihat hasil perolehan suara. Bahkan keesokan harinya dia menutup badan jalan dengan cara menggalinya,” ujarnya seperti yang dilansir Radar.

Perbuatan IS itu dilakukan sebagai bentuk kekecewaannya terhadap warga, karena tidak ada satu pun yang mencontreng dirinya. Akhirnya ia melampiaskan kekesalannya itu dengan cara yang tidak terpuji.

Akibat ulah yang dilakukan Iip, warga merasa resah. Kemudian warga melaporkannya ke pemerintah kecamatan dan kepolisian setempat.

“Setahu saya, kasus tersebut sudah ditangani aparat kepolisian,” tambahnya.

Kasatreskrim Polres Garut AKP Oon Suhendar membenarkan kejadian penutupan jalan yang dilakukan salah seorang caleg tersebut.

“Benar, kami mendapatkan laporan adanya penutupan dan penggalian badan jalan oleh seorang caleg yang tidak puas. Tapi setelah kita datang itu dapat diselesaikan di tingkat polsek secara kekeluargaan,” katanya. (rakyatmerdeka.co.id)



Caleg Stres Makasar




Ternyata, prediksi akan ada calon legislatif yang stres jika gagal meraup suara yang dibutuhkan, bukanlah isapan jempol. Tak percaya? Tanyalah Syarifuddin Punna. Tiga kawannya kini menunjukkan tanda-tanda itu. “Mereka seperti orang linglung,” katanya.

Siapakah Syarifuddin Punna? Dia Ketua Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) Sulawesi Selatan. Kepada INILAH.COM, dia berkisah, dua hari setelah penyentangan, dia mulai menerima keluhan dan curahan hati dari calegnya yang tak memperoleh suara sesuai yang dibutuhkan. Di Makassar saja, katanya, sudah ada sekitar tiga orang yang menunjukkan gejala-gejala kurang waras itu.

“Sudah banyak caleg saya yang mulai menunjukkan gejala kurang waras. Mereka sering merenung sendiri, dan berdiri di pinggir jalan seperti orang linglung,” papar Syarifuddin di Makassar, Sabtu (11/4).

Ia menggambarkan kehawatiran calegnya yang tidak bisa menerima kenyataan akan kekalahannya, bisa gila dan stres. Pasalnya, mereka sudah mengeluarkan uang banyak untuk sosialisasi. Di Sulsel, caleg PPDI tercatat sebanyak 300 orang.

Jauh sebelum hari penyentangan, mereka sudah hitung-hitungan akan memperoleh suara banyak. Tapi ternyata suara yang diperoleh tidak sesuai harapan. Hal ini sangat mempengaruhi kejiwaan dan mental para caleg.

Syarifuddin tak tinggal diam melihat fenomena ini. Apalagi, jauh-jauh hari, sudah banyak pihak yang mengingatkan ancaman kejiwaan terhadap caleg yang gagal. Maka, dia pun mengajak seluruh caleg PPDI Sulawesi Selatan yang gagal untuk berkumpul, bergembira, dan bercanda bersama. Sabtu (11/4) malam, acara itu berlangsung dengan mengundang ustad untuk memberi pencerahan.

“Kita memberikan dorongan dan memperkokoh keimanan para caleg, baik internal maupun eksternal. Jangan sampai caleg jadi stres,” ujarnya.

Caleg DPR RI ini mengimbau agar para caleg yang kalah bertarung mau menerima dengan ikhlas kekalahannya. Sebab, jika berani bertaruh dalam Pemilu, harus pula siap menerima kekalahan.




Caleg Stres Garut

Kini mulai bermunculan beberapa caleg di Kabupaten Garut yang diindikasikan kuat mengalami stres berat. Bahkan, sempat terjadi dua caleg dari dua parpol berbeda marah besar sambil berteriak menghujat tim suksesnya.

Hal itu terjadi menyusul keduanya juga diindikasikan telah menebar uang sebelum pemungutan suara pada salah satu TPS di wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut. Namun, setelah dilakukan penghitungan suara, hasil sementara menunjukkan keok atau kalah telak sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan pada Polsek setempat. Namun, kini telah dilepaskan kembali ke alam bebas.



Selain itu, juga terdapat salah seorang caleg perempuan dari parpol tertentu yang mendadak meninggal dunia setelah mengetahui dari hasil perolehan suara sementaranya kalah telak, ungkap sumber yang enggan disebut namanya, juga enggan menyebutkan identitas caleg tersebut, Sabtu.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Garut, Dadang Sudrajat, menyatakan di ruang kerjanya, hendaknya seluruh caleg dari parpol mana pun bisa bersabar karena hingga kini masih berlangsung rekapitulasi penghitungan suara.

Dengan agenda pada 11-15 April berlangsung rekapitulasi penghitungan suara di tingkat Panitia Pemungutan Kecamatan (PPK), dilanjutkan pada 17-19 April dilaksanakan rekapitulasi penghitungan suara di tingkat kabupaten, sehingga penetapan perolehan suara sahnya pada 19 April 2009.

"Diharapkan jangan emosional menyikapi perolehan suara sementara, juga hendaknya bisa menerima ikhlas apa pun hasilnya, sekaligus dapat terus-menerus memanjatkan doa kepada Allah SWT," ungkap Dadang Sudrajat menyikapi mulai banyaknya caleg yang kini huleung jentul (banyak merenung sendiri) di daerahnya. (regional.kompas.com-Sabtu, 11 April 2009)




Caleg Stres Tanggerang

Seperti yang sudah diperkirakan, sehabis Pileg 2009 bakal banyak caleg yang mengalami stress berat alias ngak waras !!!



Weleh kasihan, apa motivasinya ya…sampai stres begitu ?

Seorang caleg dari daerah pemilihan Tangerang sampai merangkak dipinggir sambil menjulurkan tangannya meminta-minta uangnya dikembalikan dijalan ( lho siapa yang ngambil uangnya ya ? ).

Peristiwa mengenaskan ini terjadi di Perumahan Alam Sutera, Tangerang dan sang caleg yang tinggal dikomplek tersebut dengan hanya mengenakan celana pendek mengamuk dijalan dan marah-marah meminta-minta kembali uangnya, hal ini terjadi setelah beberapa saat mengetahui hasil perhitungan suaranya dibeberapa TPS dengan perolehan yang sangat minim. Warga yang menyaksikan ulah caleg stress tersebut tidak ada yang berani mendekati dan hanya melihat dari kejauhan saja, bahkan caleg stress tersebut melempari warga dengan cangkir.

Beberapa warga akhirnya memberitahu kepada keluarga caleg stress tersebut, karena dikhawatirkan mengamuk dan mencelakai orang-orang disekitarnya dan akhirnya dibawa pulang oleh keluarga caleg stress tersebut. (yepiye.wordpress.com)


Judul-Judul Pidato Pilihan :

  1. Dies Natalis SMAN 1 Kesamben Tuntutan Globalisasi
  2. Sambutan Camat Pada Rapat Desa Melalui Gotong-royong Segala Kesulitan Bisa Teratasi
  3. Acara Rutin Mingguan SMAN 1 Garut Kita Harus Mandiri
  4. Acara Rutin Mingguan SMAN 21 Semarang Membangun Semangat Muda
  5. Contoh Pidato Acara Rutin Mingguan SMKN 10 Subang Berbakti Kepada Orang Tua
  6. Pidato Pertemuan Rutin Bulanan SMAN 2 Cikarang Pusat Bekasi Jiwa Mandiri Kunci Harga Diri
  7. Pidato Pertemuan Rutin Bulanan SMAN 5 Jakarta Menjadi Generasi Muda Pembawa Perubahan
  8. Pidato Pembinaan Rutin Bulanan SMAN 17 Batam Mari Bangun Semangat Belajar Kita
  9. Pidato Pembinaan Rutin Mingguan SMAN 5 Bandung Membangun Semangat Belajar Menggapai Prestasi
  10. Pidato Pembinaan Rutin SMAN 1 Semarang Mari Bangun Karakter Secara Positif
  11. Pidato Perpisahan oleh Perwakilan Siswa Kelas 3 SMP Lanjutkan Sekolah dan Raih Cita-citamu
  12. Contoh Pidato Tema Reboisasi Anjuran Menanam 1000 Pohon
  13. Contoh Pidato Pada Hari Pendidikan Nasional Bangkitkan Semangat Pendidikan Nasional
  14. Pidato SD Negeri 5 Bangkalan Indahnya Memiliki Sopan Santun
  15. Pidato Perpisahan oleh Siswa SMP 2 Surabaya Jadi Juara Berkat Jerih Payah
  16. Pidato Perpisahan oleh Wakil Siswa Kelas 3 SMP 33 Jakarta Raih Pendidikan Lebih Tinggi Raih Cita-cita
  17. Pidato Perpisahan Sekolah SMPN 15 Batam Kejarlah Cita-Citamu
  18. Pidato Perpisahan Kelas 6 SDN 1 Jakarta Giatlah Belajar dan Raih Cita-citamu Setinggi Mungkin
  19. Pidato Perpisahan Murid SDN 1 Bengkulu Buang Penyesalan Perbaiki Masa Depan
  20. Pidato Perpisahan oleh Wakil Siswa kelas 3 SMAN 1 Cilegon Waktu Tak Dapat Diputar Jangan Sia-Siakan
  21. Contoh Pidato Sambutan Kepala Desa Pada Rapat Desa Informasi Sangatlah Penting Untuk Kemajuan
  22. Contoh Pidato Sambutan Pada Pembukaan Diskusi Kelompok Manfaat Bioteknologi
  23. Contoh Pidato Sambutan Pada Sidang Pembukaan Pemilihan Ketua Prestasi Bisa Dicapai Berkat Keuletan dan Ketangguhan
  24. Contoh Pidato Upacara Rutin SMAN 2 Cikarang Pusat Bekasi Jadilah Pemuda Sukses
  25. Contoh Pidato Rutin SMPN 1 Bekasi Membangun Harapan Membangun Keberhasilan
  26. Contoh Pidato Upacara Rutin SMAN 2 Cikarang Pusat Bekasi Pemuda Taruhan Bangsa
  27. Contoh Pidato Upacara Rutin SMAN 1 Tasikmalaya Membangun Perubahan dan Mencapai Kesuksesan
  28. Contoh Pidato Upacara Rutin SMAN 12 Tasikmalaya Belajarlah Berani Bertindak Untuk Keberhasilan Masa Depan
  29. Contoh Pidato Pembinaan Rutin SMA Negeri 8 Bekasi Mari Bangun Karakter Secara Positif
  30. Contoh Pidato Upacara Hari Senin SMA Negeri 15 Jakarta Bermimpilah Besar dan Pegang Kuat-Kuat Hingga Berhasil